Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Maret 2012

Dibawah Lindungan Ka’bah (Ironi Cerita Cinta Beda Kasta)


Perjalanan cerita cinta anak manusia memang tak selalu berjalan mulus sesuai dengan apa yang diinginkan, terkadang terdapat pula kerikil-kerikil tajam yang menghambat indahnya perjalanan cerita cinta. Begitu pula yang dengan film bergenre religi produksi MD Intertainment yaitu film “Dibawah Lindungan Ka’bah” atau (DLK), film yang disutradarai Hanny R Saputra ini diadaptasi dari novel dengan judul sama karya H.Abdul Malik Karim atau yang lebih populer dengan sebutan HAMKA ini mengangkat tema perjalanan cinta beda kasta dengan latar pada tahun 1920-an.
Film yang dulunya juga pernah dirilis dengan judul yang sama di era 80-an ini ditampilkan dengan basic yang berbeda, jika DLK tahun 80-an lebih dominan menceritakan pemberontakan rakyat minang kabau terhadap penjajahan belanda dan sifat proteksionis seorang suami terhadap istri, lain halnya dengan film yang diproduksi pada tahun 2011 ini lebih dominan dengan hukum adat dan syariat islam yang begitu kuat terpatri dalam jiwa masyarakat lokal.
Cinta abadi adalah menu utama yang ingin disuguhkan film ini, dimana sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin, kemudian cinta dengan caranya sendiri telah merubah sebuah kemustahilan menjadi sebuah kelaziman. Perbedaan genre serta strata sosial memang merupakan permasalahan yang kompleks dalam perjalanan hidup manusia diangkat menjadi sebuah kisah cinta berbalut ironi. Impian bahwa manusia bebas untuk mencintai dan dicintai telah menjadi bumbu penyedap cerita cinta Hamid dan Zainab.
Laudya Cinthya Bella sangat piawai membawakan peran tokoh Zainab, gadis desa yang lugu dengan segala kesederhanaannya. Tak kalah piawainya, Harjuno Ali atau lebih populer dengan nama Herjunot Ali tampil dengan sangat menakjubkan membawakan peran sebagai Hamid dengan karakter satun, sabar dan cerdas, telah membuat kita lupa sejenak dengan perannya yang cuek dan brutal dalam film Reality Cinta Rock n’ Roll.
Film yang dirilis pada september 2011 ini, diperankan bintang-bintang yang tergolong “baru” di dunia perfilman, antara lain adalah Tara Budiman dan Niken Anjani, namun akting bintang-bintang baru ini diracik dengan perpaduan yang pas dengan akting bintang senior antara lain Yessy Goesman, Widyawati, dan Didi Petet.
Aturan adat yang dianggap konservatif dan syariat islam yang mulai di tinggalkan pada saat ini, dengan hadirnya film ini telah berhasil membuat para pemirsanya membuka mata akan pentingnya nilai-nilai tersebut. Bukan berarti kolot ataupun apalah, namun setidaknya film ini memberikan gambaran tentang agungnya norma kesopanan serta kesusilaan di negara yang menganut adat ketimuran ini.
DLK setidaknya telah mengajari para penikmat film jenis ini untuk bersabar, tegar, dan tabah menjalani semua jalan hidup dengan segala rintangannya. DLK bagaikan angin segar bagi masyarakat Indonesia, khususnya para remaja yang haus akan tontonan berbasic religi. Di tengah ketatnya film bernuansa horor, film ini bisa mendulang kesuksesan.
DLK bercerita mengenai perjalanan cerita cinta dua anak manusia yang tak bisa bersatu karena adanya perbedaan strata sosial dan ekonomi di antara keduanya, tokoh Zainab dengan latar keluarga kaya dan terpandang, serta tokoh Hamid yang hanya seorang anak janda yang bekerja di rumah keluarga Zainab. Karena besarnya intensitas pertemuan diantara keduanya, maka timbulah benih-benih asmara di antara keduanya.Suatu hari jatuhlah Zainab ke dalam sungai, tak ada seorangpun yang menolong, namun dengan sigap Hamid menolongnya dan dengan refleks memberinya bantuan berupa nafas buatan. Perbuatan yang semata-mata hanya untuk menolong dan dianggap tidak senonoh  itu terjadi di hadapan puluhan warga kampung. Dengan kejadian itu para tetua adat dan ulama kampung menjatuhkan hukuman berupa pengusiran dari kampung.
Konflik yang terjadi tak hanya berhenti di situ saja, di tengah situasi yang menggoncang psikis Zainab, Orang tua Zainab berniat menjodohkannya dengan lelaki yang sama sekali tidak dicintainya. Kejadian tersebut telah membuatnya depresi dan tertekan. Dengan terusirnya Hamid dari kampungnya, Hamid memiliki ambisi untuk mewujudkan mimpinya untuk menunaikan ibadah haji dan memanjatkan do’a yang dititipkan Zainab agar Zainab menikah dengan seseorang yang dicintai serta mencintainya seperti mimpinya dulu. Keduanya menyerahkan semuanya di tangan Tuhan, inilah kisah cinta yang tak harus memiliki, menyerahkan segala sesuatunya pada ridha ilahi, menuju cinta yang haqiqi.
Secara sepintas film ini terlihat cukup baik, namun jika diamati secara seksama, saat adegan Hamid dan Zainab berberbincang di balik tembok, adegan itu terlihat diambil secara tersendiri dan penggabungannya kurang rapi. Terlebih saat Hamid menunaikan ibadah haji, penggabungan latar kota mekkah dengan tokohnya terlihat kurang rapi. Apalagi visualisasi produk-produk sponsor yang terkesan dipaksa, membuat penonton meluncurkan berbagai pertanyaan. Dan membuat jalan cerita menjadi kurang menggigit.
Namun secara keseluruhan film ini layak untuk ditonton, film ini memberikn inspirasi bagi penonton. Film inilah yang dibutuhkan remaja yang memiliki iman yang gersang, agar mereka membuka mata tentang pentingnya norma-norma di sekitar kita, serta percaya pada jalan Tuhan, bahwa sesungguhnya semua akan indah pada waktunya.

Esai Ketika Cinta Bertasbih 2


Film Ketika Cinta Bertasbih 2 adalah film Indonesia yang identik ceritanya berbau kerohanian atau dapat dikatakan sebagai film bergenre religius. Film dengan nuansa religi ini merupakan kutipan atau bentuk dari novel dengan judul sama yang ditulis oleh Habiburrahman El Shirazy dan dijadikan film yang disutradarai oleh Chaerul Umam. Film yang memiliki banyak hikmah ini mampu merasuk dalam sanubari masyarakat Indonesia yang haus akan iman dan makhlik sempurna didunia ini dapat luluh dengan apa yang telah ditayangkan dalam film yang bernuansa religi.
Tidak mudah juga mencari Aktor yang tepat untuk menjadi tokoh dalam film ini. Habiburrahman El shirazy yang menjadi sumber perancang juga turun dalam audisi untuk mencari aktor yang akan memainkan filmnya. Usaha yang dilakukan sang sutradara ini benar-benar matang dan sangat memuaskan hasilnya. Menemukan Kholidi Asadik Alam menjadi tokoh Azzam dan memilih Okky Setiana Dewi kembali menjadi tokoh Anna Althafunisa.
Tokoh Azzam yang dibintangi oleh aktor bernama Kholidi Asadik Alam ini bersifat sangat lembut, sopan terhadap orang tuanya serta memegang teguh agama islam. Dengan ilmu yang dia tempuh di Kairo membuatnya semakin tebal akan ilmu agama. Serta tokoh Anna Althafunisa yang diperankan kembali oleh Okky Setiana Dewi dengan sifatnya yang sangat lembut pula. Anak yang sangat berbakti kepada orang tuanya dan juga berpegang teguh dalam agamanya. Mereka berdua masih menjadi pusat cerita atau sebagai tokoh utama dalam film yang menggambarkan nuansa religi yang sangat dalam.
Didukung skenario penuh konflik, tapi dengan lembut atau tidak kasar dan selalu rendah hati dan sopan santun yang dijunjung tinggi. Bukan konflik emosional yang meledak-ledak. Tetapi lebih kepada konflik seseorang dengan nasibnya dengan kepala dingin dan tetap tawakal. Secara tidak langsung, para penonton diberi contoh bagaimana menghadapi masalah. Dengan cara bagaimana kita menghadapi masalah. Tidak dengan emosional tetapi dengan berusaha dan diserahkan kepada yang kuasa tentunya. Sabar dan selalu bertawakal adalah kunci agar masalah terselesaikan dengan baik itulah yang dicontohkan kepada kita semua dalam film yang berdurasi lumayan lama ini.
Film KCB pertama dan kedua hamper sama. Dan aktornya masih tetap. Hanya saja, latar tempatnya yang berubah. KCB pertama kebanyakan latar tempatnya berada di Mesir. Beda dengan KCB yang kedua, kebanyakan dan bahkan terpusat hanya di Indonesia saja. Tidak lagi ada di Mesir. Tetapi, adegan-adegan yang ada dalam film tersebut mengharukan, sedih, bangga, masalah-masalah yang menimpa, dan tak ketinggalan lagi yaitu tentang cinta yang sebenar-benarnya cinta. Cinta yang tak beradegan berlebihan, tetapi merasuk dalam sanubari yang paling dalam. Intinya, cinta yang sesempurnanya cinta. Dan menunjukkan kepada penonton bahwa cinta memang suci dan jodoh takkan lari jauh dari kita jika kita tidak mempermainkan cinta suci.
Kisah di film kedua memang berangkat dari Azzam yang dilanda kecewa karena ditinggal menikah Anna Athafunnisa (Oki Setiana Dewi) yang dinikahi Furqon (Andi Arsyil Rahman). Dirinya pun bertemu dengan Vivi (Asmirandah), dokter cantik yang baru saja lulus dari Universitas Diponegoro.

Dan para penonton diajak untuk merenung bagaimana ketika kita mendapat masalah seperti yang dialami oleh Azzam. Ketika ia akan menikah dengan Vivi, lalu Azzam dan Ibunya kecelakaan dan Ibunya meninggal dunia? Apa yang akan kita rasakan ketika kita juga mengalami hal yang sama dengan adegan tersebut? Apa para aktor dalam film tersebut dapat mempengaruhi hati kita? Mungkin hanya orang yang berhati keras yang tidak mengeluarkan air matanya ketika melihat adegan yang benar-benar sukses dan benar-benar merasuk dalam semua bagian otak yang akan terisi penuh dengan air mata. Dan menghabiskan air mata kita ketika kita melihat klimaks dari adegan yang mendapatkan musibah yang bertubi-tubi. Tetapi apa yang dilakukan Azzam? Dia tetap tabah, sabar dan tetap berserah diri kepada Yang Maha Esa. Serta tetap menjunjung tinggi ketegaran hidupnya bersama musibah-musibah yang diberikan Tuhan kepadanya. Kita juga dapat melihat bagaimana karakter-karakter para tokoh yang benar-benar pas dengan adegannya. Dan karakter yang benar-benar muncul. Aura-aura yang Nampak sangat begitu sempurna dari semua tokoh. Mulai dari ibu Azzam yang benar-benar polos dan mencerminkan wanita desa yang lugu dan berpegang teguh pada agama. Serta Husna yang selalu patuh terhadap orang tuanya serta kakak tercintanya, Azzam. Dan Azzam yang menunjukkan kesopanan dan ketabahan, yang pada saat adegan ketika Azzam sampai dirumahnya dan berlutut dihadapan ibunya. Benar-benar kejadian yang mengharukan. Dan saat ibunya meninggal itulah yang benar-benar menguras air mata kita dan klimaks yang benar-benar dapat memasuki alam bawah sadar kita. Sehingga kita dapat merasakan betapa hancurnya Azzam ketika itu.
Tak hanya aktor yang teraudisi saja yang penampilannya sangat cocok dengan karakternya. Tetapi juga dengan adanya perpaduan aktor yang sudah berpengalaman dan sudah menjadi senior aktor yang benar-benar hebat dalam berakting. Yakni H. Deddy Mizwar yang memerankan ayah Anna dengan sangat baik dan sangat cocok dengan karakter yang diperankannya.
Menurut saya, acungan seribu jempol, bahkan berjuta-juta jempol untuk film Ketika Cinta Bertasbih ini. Memang pantas para Aktor, sutradara dan crew yang mengemas film tersebut dengan sebaik-baiknya. Karena selain sebagai hiburan, film ini juga memberikan ilmu agama yang benar-benar baik dan terkemas dengan paduan yang pas. Komposisi yang benar-benar hebat. Agar para penonton juga merenungkan serta dapat mengambil perilaku serta sikap yang baik dan dapat mempertebal imannya kepada Tuhan.
Memang film seperti inilah yang dibutuhkan oleh semua masyarakat, agar dapat meniru perilaku yang benar-benar baik serta dapat mencontoh hal-hal yang baik dari segi agama atau dari segi yang lainnya. Dan memang sangatlah pas komposisi dari film ini, keindahan, keserasian, keagamaan, dan dengan sejuta manfaat yang sangat banyak.

Aplikasi Roman dalam Dimensi Remaja


Pengaplikasian tema berbau percintaan atau roman tentunya sangat menarik, terlebih untuk kita para remaja yang tengah mengalami masa-masa terindah dalam fase kehidupannya. Dalam kehidupan seseorang tentunya memiliki obsesi serta mimpi tersendiri mengenai perjalanan cintanya. Bila ada ungkapan yang menyatakan bahwa “Di dunia ini tak ada yang gratis”, ungkapan itulah yang tepat untuk menggambarkan usaha yang dibutuhkan untuk meraih obsesi dan mimpi cerita cinta.
            Dalam cerpen berjudul  “Misi Kuping Oranye” karya Rosandra telah digambarkan kerumitan-kerumitan untuk mencapai angan tokoh Wil dalam cerita ini. Cerpen yang bertema kisah percintaan ini sangat mewakili dimensi remaja saat ini. Dengan tingkah laku konyol wil yang digambarkan dengan sangat menarik sehingga mampu membuat pembaca semakin penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
            Rosandra sangat lihai membuat pembaca karyanya tercengang kagum dengan jalan cerita cerpen ini. Dengan menggunakan bahasa yang komunikatif yang biasa digunakan sehaari-hari sehingga pembaca mudah memahami , tak hanya itu saja, Rosandra juga menggunakan istilah-istilah gaul khas remaja, ditambah lagi istilah modern dan menyisipkan penggalan  lirik lagu yang dilantunkan David Archuletta yang menyiratkan kesan remaja yang modern dan smart.
            Misi Kuping Oranye tak hanya sekedar cerpen pada umunya yang monoton dan mudah ditebak jalan ceritanya. Dengan kekonyolan-kekonyolan yang ada, membuat karya ini sangat unik dan memberi kesan remaja yang apa adanya.
Misi Kuping Oranye menceritakan kehidupan Wilona atau biasa disapa Will yang tengah merasakan indahnya jatuh cinta. Wil memang tak seperti layaknya remaja putri pada umumnya yang lebih suka menghabiskan waktu untuk ke mall, namun wil lebih suka ngangon kerbau kesayangannya. Namun di balik itu semua, Wil adalah sosok yang luar biasa, pandai memasak, menyulam dan merupaka juara paralel di sekolahnya. Ya mungkin inilah yang ingin diungkapkan Rosandra, bahwa setiap kekurangan pasti berpadu harmonis dengan kekurangan.
Dalam perjalanan pecarian dermaga cintanya, Wil bertemu dengan Atan yang telah berhasil meluluh lantahkan hatinya. Untuk merealisasikan obsesi cerita cintanya, Wil membuat target khusus yang dinamainya dengan “Misi Kuping Oranye”, inilah yang menggambarkan kehidupan sehari-hari , setiap orang mempunyai misi, obsesi, serta keberuntungan.
Dalam cerita ini cenderung didominasi dengan eksploitasi karakter tokoh dan mampu membawa pembaca berimajinasi tanpa batas  menembus dinding-dinding penghalang srta membuat pembaca hanyut terbawa arus alur cerita. Mungkin mayoritas kita beranggapan bahwa misi-misi konyol seperti ini adalah hal yang mustahil, namun pada kenyataannya, di dunia ini tak ada yang tak mungkin asalkan kita mau berusaha untuk mencapainya, ketika Atan dan Wil mengalami kepanikan yang luar bisa di dalam bus reot dalam menghadapi ibu muda yang tengah hamil tua yang hendak melahirkan, sosok Atan yang terkesan cuek tak disangka dengan kedewasaanya mempu menciptakan kondisi yang kondusif dan berhasil menyelamatkan ibu muda itu. Ya mungkin inilah yang menggambarkan remaja yang cenderung dianggap childist,namun disisi lain remaja juga memiliki sisi kedewasaan yang tak terduga.
Ketika semua “Misi Kuping Oranye” rasanya tak mungkin lagi untuk terealisasi, sebuah keajaiban muncul dan menghadirkan “Misi Bocah Sariawan” yang digagas Atan, telah mengubah sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Keajaiban itu pasti ada dan janganlah berparisipsi dalam kehidupan pesimistis, begitu mungkin yang ingin disuguhkan oleh penulis.

By:Dian (dp) Adeena – XI bahasa ^.^
           

Weton Vs Takdir


Berbicara tentang “Weton” ataupun hitungan hari kelahiran tentulah bukan sebuah hal yang asing. Dan tentunya banyak sekali pro dan kontra meneganai hal ini. Bagi kita, terutama para remaja masa kini pastilah menganggap hal ini sebagai sesuatu yang kurang begitu penting ataupun tidak penting sama sekali. Mereka beranggapan hal seperti ini tentulah sebuah hal yang sangat tidak logis, apalagi kita hidup di tengah-tengah era modernisasi. Atau mereka menganggap ini adalah hal yang konservatif.
Namun tak dapat di pungkiri pula bahwa masyarakat indonesia khususnya orang jawa, menjadikan hal ini seakan-akan prinsip ataupun ideologi. Hal-hal seperti ini pulalah yang membuat masyarakat masih berfikir secara kedaerahan dan sulit untuk menjadi maju. Banyak  orang mengatakan bahwa hitungan hari kelahiran seseorang dapat mempengaruhi kehidupan seseorang. Namun di dunia ini tak ada seorangpun yang tahu dengan apa yang akan terjadi di masa kini dan yang akan datang. Kita sebagai manusia yang beragama dan mempercayai akan keberadaan Tuhan dan adanya takdir, seharusnya tak perlu was-was ataupun khawatir dan gelisah dengan perhitungan hari kelahiran atau weton.
Di zaman yang modern ini masih saja banyak orang yang bergantung pada perhitungan tanggal kelahiran dalam penentuan hari pernikahan ataupun hal-hal lainnya. Misalnya saja dalam pernikahan, apabila hasil dari perhitungan tersebut berupa hal yang positif, maka akan baik-baik saja dan rencara pernikahan akan diteruskan. Namun apabila hasil perhitungan tanggal lahir tersebut berbuah negatif, maka pernikahan itu tak ayalnya juga akan dibatalkan. Sebenarnya hal-hal seperti itu hanya bergantung pada kepercayaan saja, jika kita mempercayai sesuatu, maka secara tak langsung kita telah tersugesti dengan sendirinya.
Seharusnya sebagai seseorang yang berpendidikan dan hidup di era  modernisasi , kita tidaklah terlalu mempercayai hal-hal tersebut. Namun kita juga tidak boleh mengesampingkan hal-hal semacam ini. Yang terpenting adalah hidup dengan selalu diiring do’a, usaha dan tentunya tak lepas dari takdir. Jika saja weton bisa dikatakan bagus, namun kita tak memilki usaha, itu sama juga bohong. Jadi “weton“ tidaklah satu-satunya hal yang mempengaruhi kehidupan kita.  

Kamis, 23 Februari 2012

Dibawah Lindungan Ka'bah (Ironi Cerita Cinta Beda Kasta)



Dibawah Lindungan Ka’bah
(Ironi Cerita Cinta Beda Kasta)

Perjalanan cerita cinta anak manusia memang tak selalu berjalan mulus sesuai dengan apa yang diinginkan, terkadang terdapat pula kerikil-kerikil tajam yang menghambat indahnya perjalanan cerita cinta. Begitu pula yang dengan film bergenre religi produksi MD Intertainment yaitu film “Dibawah Lindungan Ka’bah” atau (DLK), film yang disutradarai Hanny R Saputra ini diadaptasi dari novel dengan judul sama karya H.Abdul Malik Karim atau yang lebih populer dengan sebutan HAMKA ini mengangkat tema perjalanan cinta beda kasta dengan latar pada tahun 1920-an.
Film yang dulunya juga pernah dirilis dengan judul yang sama di era 80-an ini ditampilkan dengan basic yang berbeda, jika DLK tahun 80-an lebih dominan menceritakan pemberontakan rakyat minang kabau terhadap penjajahan belanda dan sifat proteksionis seorang suami terhadap istri, lain halnya dengan film yang diproduksi pada tahun 2011 ini lebih dominan dengan hukum adat dan syariat islam yang begitu kuat terpatri dalam jiwa masyarakat lokal.
Cinta abadi adalah menu utama yang ingin disuguhkan film ini, dimana sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin, kemudian cinta dengan caranya sendiri telah merubah sebuah kemustahilan menjadi sebuah kelaziman. Perbedaan genre serta strata sosial memang merupakan permasalahan yang kompleks dalam perjalanan hidup manusia diangkat menjadi sebuah kisah cinta berbalut ironi. Impian bahwa manusia bebas untuk mencintai dan dicintai telah menjadi bumbu penyedap cerita cinta Hamid dan Zainab.
Laudya Cinthya Bella sangat piawai membawakan peran tokoh Zainab, gadis desa yang lugu dengan segala kesederhanaannya. Tak kalah piawainya, Harjuno Ali atau lebih populer dengan nama Herjunot Ali tampil dengan sangat menakjubkan membawakan peran sebagai Hamid dengan karakter satun, sabar dan cerdas, telah membuat kita lupa sejenak dengan perannya yang cuek dan brutal dalam film Reality Cinta Rock n’ Roll.
Film yang dirilis pada september 2011 ini, diperankan bintang-bintang yang tergolong “baru” di dunia perfilman, antara lain adalah Tara Budiman dan Niken Anjani, namun akting bintang-bintang baru ini diracik dengan perpaduan yang pas dengan akting bintang senior antara lain Yessy Goesman, Widyawati, dan Didi Petet.
Aturan adat yang dianggap konservatif dan syariat islam yang mulai di tinggalkan pada saat ini, dengan hadirnya film ini telah berhasil membuat para pemirsanya membuka mata akan pentingnya nilai-nilai tersebut. Bukan berarti kolot ataupun apalah, namun setidaknya film ini memberikan gambaran tentang agungnya norma kesopanan serta kesusilaan di negara yang menganut adat ketimuran ini.
DLK setidaknya telah mengajari para penikmat film jenis ini untuk bersabar, tegar, dan tabah menjalani semua jalan hidup dengan segala rintangannya. DLK bagaikan angin segar bagi masyarakat Indonesia, khususnya para remaja yang haus akan tontonan berbasic religi. Di tengah ketatnya film bernuansa horor, film ini bisa mendulang kesuksesan.
DLK bercerita mengenai perjalanan cerita cinta dua anak manusia yang tak bisa bersatu karena adanya perbedaan strata sosial dan ekonomi di antara keduanya, tokoh Zainab dengan latar keluarga kaya dan terpandang, serta tokoh Hamid yang hanya seorang anak janda yang bekerja di rumah keluarga Zainab. Karena besarnya intensitas pertemuan diantara keduanya, maka timbulah benih-benih asmara di antara keduanya.Suatu hari jatuhlah Zainab ke dalam sungai, tak ada seorangpun yang menolong, namun dengan sigap Hamid menolongnya dan dengan refleks memberinya bantuan berupa nafas buatan. Perbuatan yang semata-mata hanya untuk menolong dan dianggap tidak senonoh  itu terjadi di hadapan puluhan warga kampung. Dengan kejadian itu para tetua adat dan ulama kampung menjatuhkan hukuman berupa pengusiran dari kampung.
Konflik yang terjadi tak hanya berhenti di situ saja, di tengah situasi yang menggoncang psikis Zainab, Orang tua Zainab berniat menjodohkannya dengan lelaki yang sama sekali tidak dicintainya. Kejadian tersebut telah membuatnya depresi dan tertekan. Dengan terusirnya Hamid dari kampungnya, Hamid memiliki ambisi untuk mewujudkan mimpinya untuk menunaikan ibadah haji dan memanjatkan do’a yang dititipkan Zainab agar Zainab menikah dengan seseorang yang dicintai serta mencintainya seperti mimpinya dulu. Keduanya menyerahkan semuanya di tangan Tuhan, inilah kisah cinta yang tak harus memiliki, menyerahkan segala sesuatunya pada ridha ilahi, menuju cinta yang haqiqi.
Secara sepintas film ini terlihat cukup baik, namun jika diamati secara seksama, saat adegan Hamid dan Zainab berberbincang di balik tembok, adegan itu terlihat diambil secara tersendiri dan penggabungannya kurang rapi. Terlebih saat Hamid menunaikan ibadah haji, penggabungan latar kota mekkah dengan tokohnya terlihat kurang rapi. Apalagi visualisasi produk-produk sponsor yang terkesan dipaksa, membuat penonton meluncurkan berbagai pertanyaan. Dan membuat jalan cerita menjadi kurang menggigit.
Namun secara keseluruhan film ini layak untuk ditonton, film ini memberikn inspirasi bagi penonton. Film inilah yang dibutuhkan remaja yang memiliki iman yang gersang, agar mereka membuka mata tentang pentingnya norma-norma di sekitar kita, serta percaya pada jalan Tuhan, bahwa sesungguhnya semua akan indah pada waktunya.