Senin, 05 Desember 2011

1.Perbedaan cerpen dengan novel


1.Perbedaan cerpen dengan novel
No
Unsur
Novel
Cerpen
1.
Alur
Kompleks
Sederhana
2.
Konflik
Mengubah nasib tokoh
Tidak mengubah nasib tokoh
3.
Panjang cerita
Menceritakan sebagian besar kehidupan tokoh
Menceritakan kehidupan tokoh yang dianggap penting
4.
Penokohan
Karakter tokoh disampaikan secara mendetail.
Karakter tokoh tidak mendetail.


2.Unsur Intrinsik dan cerpen dan novel
A.Tema:
·         Tema mayor
·         Tema minor
B.Amanat:
C.Alur/Plot:
·         Kronlogis
·         Flashback
·         Maju
·         Mundur
·         Klimaks
·         Antiklimaks
D.Penokohan:
·         Tokoh utama
·         Tokoh tambahan
·         Antagonis
E.Setting/latar:
·         Tempat
·         Waktu
·         Suasana
F.Perwatakan:
·         Sifat
·         Cara Pelukisan
G.Point of view:
·         Orang pertama
·         Orang ketiga
·         Teknik campuran
H.Suspense dan Foreshadowing
I.Limited focus
J.Bahasa:
·         Bahasa nasional
·         Bahasa daerah
·         Dialek asing
·         Makna denotasi
·         Makna konotasi
·         Makna ambiguitas
K.Gaya bahasa dan majas
3.Ciri-ciri sastra klasik:
Bersifat onomatope/anonim, yaitu nama pengarang tidak dicantumkan dalam karya sastra.
  1. Merupakan milik bersama masyarakat.
  2. Timbul karena adat dan kepercayaan masyarakat
  3. Bersifat istana sentris, maksudnya ceritanya berkisar pada lingkungan istana
  4. Disebarkan secara lisan
  5. Banyak bahasa klise, yaitu bahasa yang bentuknya tetap
4.Contoh judul sastra klasik:
A.Merari Siregar
·         Azab dan Sengsara (1920)
·         Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
·         Cinta dan Hawa Nafsu
·         Siti Nurbaya (1922)
·         La Hami (1924)
·         Anak dan Kemenakan (1956)
·         Tanah Air (1922)
·         Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
·         Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
·         Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
·         Cinta yang Membawa Maut (1926)
·         Salah Pilih (1928)
·         Karena Mentua (1932)
·         Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
·         Hulubalang Raja (1934)
·         Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
·         Tak Disangka (1923)
·         Sengsara Membawa Nikmat (1928)
·         Tak Membalas Guna (1932)
·         Memutuskan Pertalian (1932)
·         Darah Muda (1927)
·         Asmara Jaya (1928)
·         Pertemuan (1927)
·         Salah Asuhan (1928)
·         Pertemuan Djodoh (1933)
·         Menebus Dosa (1932)
·         Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
·         Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)
5.Relevansi karya sastra klasik dengan kehidupan kekinian:
Sangat relevan sekali karena karya sastra klasik juga memiliki nilai-nilai yang juga masih relevan dengan kehidupan kekinian,namun saja pengemasan dalam bentuk ceritanya berbeda. Walaupun dikemas dengan bentuk yang berbeda namun konteksnya tetap sama.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar